Monggo.. Selamat datang di Kota Solo.

Halo Surakarta.. Tahun ini saya kerap sekali berkunjung ke kota Solo nama lain kota Surakarta, meski secara subyektif saya suka memanggil kota ini dengan nama terakhir. lebih bernuansa sejarah menurut pendapat awam saya. Tetapi lafal Solo juga mudah diucapkan, barangkali ini sebabnya seluruh maskapai penerbangan yang membuka rute penerbangan ke kota ini, memilih menggunakan nama Solo. Dua kata pertama yang membuka paragraph ini, seringkali saya tuliskan diakun twitter saya, saya sering bepergian ke beberapa kota di pulau jawa, namun setiap kali menjejakkan kaki di tanah Surakarta ini, ada ketertarikan yang meluapkan rasa betah hingga tumpah ruah. Saya akan berbagi alasannya denganmu teman, ditulisan ini.
Kota Surakarta bersiap sedia menyambut kedatanganmu teman, melalui “tiga gapura” yang terus dibenahi dan dipercantik sesuai fungsi oleh pemerintah setempat. Gapura pertama yaitu Bandara Adi Sumarmo, bandara ini teman teman, termasuk salah satu bandara internasional. Oiya , Kota Surakarta juga dipercaya sebagai embarkasi haji untuk wilayah Jateng&DIY. Dari beberapa kedatangan saya melalui bandara ini, terasa sekali semangat dan hasil pembenahan yang terus diupayakan, tengok saja dari kebersihannya, tertibnya alur mobil yang hendak menjemput di lobi,pun sirkulasi parkir yang tertata dengan baik, juga mudah-mudahan ya, ruangan untuk merokok bisa lebih disosialisasikan supaya pengunjung mendapatkan kenyamanan bersama.

Kota Surakarta juga memiliki terminal yang masyur dengan nama Terminal Tirtonadi, seniman lokal Didi Kempot saya pikir berperan menggemakan nama stasiun ini, melalui salah satu judul lagu dengan nama yang sama. Lagunya asik lho temanteman. Tirtonadi ini terminal yang besar, dan dikelola dengan baik. Saat ini sedang berjalan ugrade infrastruktur disana. Pedagang di dalam terminal kian tertib, kebersihan juga lumayan baik untuk standar terminal, dan yang menyenangkan adalah rasa aman. Rasa aman semoga menjadi prioritas utama pengelola terminal untuk dipertahankan, dan terus mendapat perhatian untuk ditingkatkan.

Dari ketiga gapura yang saya sebutkan diawal, gapura inilah Favorite saya: Stasiun Balapan! Padahal dua kali sudah saya pernah ditinggalkan kereta Argo Dwi Pangga , tetapi tetap saja selain menyukai kereta api saya suka stasiun ini, Atmosfer kesederhanaan di stasiun ini terasa sekali, cobalah kawan rasai sendiri, datanglah ke Surakarta melalui gapura ini.

Di kota Surakarta pelbagai event seringkali digelar, mulai dari yang rutin setiap tahun atau acara yang bersifat spontanitas. Yang menarik di kota tercinta ini, hampir mayoritas disetiap event seperti secara sengaja dibubuhkan nuansa budaya. Tak sulit menemukan event apa saja yang sedang atau akan berlangsung, beberapa website diciptakan untuk mengakomodir informasi mengenai hal ini. Betapa warga kota ini memudahkan kita mendaur informasi. Ya, persiapkan tenaga dan waktumu untuk mengikuti dan menikmati pertunjukan yang dipersiapkan kota ini untukmu.
Atau jika engkau teman, ialah pribadi yang menyukai kemana langkah membawamu berjalan, cobalah telusuri jalan utama kota ini, Jln. Slamet riyadi. Di kanan kirinya, kau akan dapati gedunggedung berbenah diri, symbol geliat ekonomi yang mabrur. Lurus saja terus, tatapanmu akan menemu ruparupa perbankan domestik maupun bank dari luar negeri yang memutuskan membuka cabang di kota ini. penegasan dari eksistensi progres perekonomian kota. Beberapa hotel berbudget menengah keatas terhampar di seputaran jalan ini. tetapi jangan khawatir, bagi teman yang berkantong tebal tetapi memilih untuk tetap sederhana, Kota Surakarta menyiapkan sederet penginapan dengan kisaran terjangkau mulai dari Rp 70 ribu/malam. Jika lelah menikmati supremasi ekonomi modern di sepanjang Jln. Slamet riyadi, di ujung jalan teman, sudahkah kau temukan patung yang gagah: sang pahlawan? Beliau seperti mengingatkan jalan pilihan kepada kita untuk kembali ke akar, yang tercermin dari 2 persimpangan jalan di sana, ambil ke kanan maka kau akan diantar kearah keraton Surakarta, Masjid Agung Surakarta, dan pasar yang aduhai seksinya: pasar Klewer. Jika kiri yang kau sukai, jalan yang lebar itu (Gladak) seperti kompleks perbankan dengan gedung Bank Indonesia sebagai mahkota, sekedar informasi teman, di malam minggu tempat ini ramai dikunjungi mudamudi kota Surakarta. Nah disamping BI terdapat gedung balai kota nan asri dan sejuk. Disebrangnya kau dapati pasar Gede. Amboi nian kota Surakarta, pusat ekonomi modern diapit oleh hirukpikuk pasar tradisional yang masyur kualitas barang dan pelayanannya. Di hari Minggu pagi, Kota Solo juga menerapkan program Car Free day di jalan ini, moment ini dimaksimalkan banyak komunitas untuk berkumpul dan mereka sering mengadakan event disini lho. Ahh hamper terlupa, taman budaya sriwedari dan pusat buku lawas juga terletak persis disamping Jln. Slamet riyadi. Jadi teman-teman yang gemar berburu-buku, kawasan ini sangat saya rekomendasikan. Taman budaya ini pula, menurut saya, sebagai salah satu geletar nadi kehidupan budaya di kota Surakarta. Meski dapat dikatakan setiap sudut di kota ini bernapaskan budaya. Bagi temanteman yang menyukai wisata sejarah, selain keraton di kota Surakarta juga terdapat benteng Vestenburg, letaknya berdekatan dengan balaikota. Saya pribadi sering berkunjung ke kampung batik Laweyan, beberapa industry batik rumahan di sana, kerap mengizinkan saya untuk mengetahui proses membatik, lagipula galeri batik dan kerajinan disana juga menyediakan pelbagai macam kain dan baju batik, tepat sekali untuk dijadikan cinderamata khas kota Solo. Bagi yang suka olahraga, kota Surakarta punya segambreng fasilitas, yang paling simbolik tentu saja stadion Manahan. Stadion kebanggaan pasoepati ini, memiliki jogging track yang asri, di dalam kawasan stadion juga terdapat sarana gym dengan fasilitas lengkap.

Sudah lapar teman? Usai menyaksikan eloknya pertunjukan di Surakarta, Mari manjakan selera kulinermu di kota ini, Surakarta siap menjamu rasa lapar kita dengan resep juga menu khas: Ada nasi liwet enak, yang menjamur disepanjang jalan slamet riyadi, suka teamlo? Saya rekomendasikan teamlo Es masuk, lalu sate kambing dan tengkleng, dua menu ini wajib saya nikmati setiap kali berkunjung ke kota solo, percayalah, originalitas rasanya sulit di temukan di kota lain. Serabi Notosuman! Ini cemilan legendaris kota ini teman, selain itu serundeng juga abon barangkali bisa dijadikan alternative oleh-oleh makanan khas kota solo. Beberapa tempat angkringan sebaiknya jangan terlewatkan, terus terang saya takjub terhadap kuantitas pedagang hik di kota ini, kagum sekali karena jumlahnya melebihi minimarket. Rasanya kebijakan pemerintah setempat, mengenai hal ini perlu senantiasa kita dukung. Hik atau angkringan biasanya menyediakan menu sederhana; gorengan,sate telur puyuh, sate ati, usus, nasi kucing, es the, jeruk, kopi dan wedang jahe. yang menarik dari perniagaan di kota ini teman,ialah servicenya, mau itu di pasar ataupun di rumah makan, bahkan diangkringan. Jika diperusahaan besar menekankan service excellent terhadap pelanggan, di kota ini yang saya rasakan, keramahan dan kekeluargaan menjadi value yang mengakar kuat. pernah bertemu petugas penjaga perempatan teman, yang membantu polentas mengatur lancarnya lalu lintas? Yak! Senyum dan keceriaan mereka, fakta mana yang hendak kita dustakan…
Saya yakin, mendiskripsikan atau merangkum detil keindahan maupun progress kota Surakarta tak kan rampung dalam beberapa lembar tulisan. Namun setidaknya dengan menuliskan kesan sederhana saya, saya kian memiliki alas an untuk terus jatuh hati pada kota ini.

Sebagai penutup saya ingin berterimakasih kepada seluruh masyarakat Surakarta (Solo) yang telah berjibaku dengan kompak dan rendah hati untuk menghadirkan kota yang nyaman, bersih, dan ramah. Juga kepada seluruh stakeholder Surakarta, bagi saya yang sering berkunjung ke kota ini, Surakarta ialah symbol kota budaya yang dapat berdampingan dengan harmonis terhadap industry pariwisata. Kota yang tetap sahaja, ditengah arus komersialisasi tata ruang yang kian menderas. Harapan saya, semoga Surakarta tetap terjaga untuk menjadi dirinya&bersiap menjadi rahim bagi embrio kebudayaan yang lahir dari kearifan kota dan masyarakatnya.

Terima kasih banyak, Surakarta! 

*tulisan ini diposting untuk menyemarakkan kompetisi tulisan kesan tentang
Solo* banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s